Indostats | Free counter Indonesia DC Balaraja.Com: Barang China di ALFAMART

Barang China di ALFAMART

JAKARTA - Perusahaan ritel, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, akan membatasi penjualan produk dari China agar pendapatan tahun ini tidak turun. Membanjirnya produk China pasca dibukanya perdagangan bebas ASEAN - China sejak lanuari ini diperkirakan belum akan mendapatkan respons baik dari konsumen Alfamart.                  

                             
                                                        

Wakil Presiden Direktur Alfamart Henry Komala mengatakan sebagian besar atau lebih dari 80 persen produk yang dijual di gerai Alfamart merupakan produk dalam negeri hasil dari usaha kecil menengah (UKM). Sedangkan produk impor seperti dari Eropa, Amerika, dan Asia masih relatif kecil karena penjualannya juga terbatas.

Masyarakat atau konsumen menyukai produk-produk dalam negeri sehingga penjualan produk impor, termasuk dari China, dibatasi," katanya, Kamis (21/1). Alfamart akan tetap membatasi produk impor, termasuk dari China, meski dibukanya perdagangan bebas ASEAN-China memberi kemungkinan untuk membanjirnya produk China di pasaran.

Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatannya tumbuh 25 persen dibanding perkiraan realisasi pendapatan tahun lalu sebesar 10,5 triliun rupiah. Untuk mengejar target pertumbuhan itu, perseroan telah menyiapkan belanja modal sekitar 600 miliar rupiah, lebih tinggi dibanding 2009 yang hanya 450-500 miliar rupiah.Henry menjelaskan dana belanja modal tersebut berasal dari saldo hasil penawaran umum saham perdana (IPO) tahun lalu, kas internal, dan fasilitas kredit dari BCA yang masih dimiliki perseroan sekitar 500 miliar rupiah.

Perseroan akan menggunakan belanja modal itu, antara lain untuk kegiatan promosi, memperbaiki sarana dan prasarana, menambah item produk, serta membeli 5-10 mik baru untuk menjamin kelancaran distribusi barang dari pusat distribusi ke toko atau gerai.Tahun ini kata Henry, Alfamart juga akan membangun sekitar empat sampai lima pusat distribusi di Bali dan Klaten, lawa Tengah, pada kuartal kedua.

Mengenai prospek bisnis ritel tahun ini, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Benyamin Mailol mengatakan Aprindo memprediksi tahun ini pendapatan industri ritel bisa tumbuh 15 persen. Pertumbuhan pendapatan itu dipicu oleh kenaikan harga jual disebabkan naiknya inflasi sehingga harga bahan baku dan energi diprediksi bakal naik. 
 
Sumber: Koran Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar

Artikel Populer

 

News Update

Cari Blog Ini

Memuat...

DC Balaraja.Com Copyright © 2009