Indostats | Free counter Indonesia DC Balaraja.Com: Januari 2010

Perkembangan Mini Market Waralaba

Indofood Group merupakan perusahaan pertama yang menjadi pionir lahirnya mini market di Indonesia pada tahun 1988. Kemudian Hero Supermarket mendirikan Starmart pada tahun 1991. Di susul Alfa Group mendirikan Alfa Minimart pada tahun 1999 yang kemudian berubah menjadi Alfamart. Dalam hitungan tahun, mini market telah menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perubahan orientasi konsumen dalam pola berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Dulu konsumen hanya mengejar harga murah, sekarang tidak hanya itu saja tetapi kenyamanan berbelanja pun menjadi daya tarik tersendiri.Bisnis mini market melalui jejaring waralaba alias franchise berkembang biak sampai pelosok kota kecamatan kecil. Tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Khususnya mini market dengan brand Indomaret dan Alfamart. Siapa yang tidak kenal Indomaret? Dan siapa yang tidak kenal Alfamart? Anak kecil pun kalau beli permen pasti “nunjuknya” minta ke Indomaret atau ke Alfamart. Kedua merk ini dimiliki oleh group perusahaan raksasa yaitu Indomaret milik PT. Indomarco Prismatama (Indofood Group) dan Alfamart milik perusahaan patungan antara Alfa Group dan PT. HM Sampoerna, Tbk.
Indomaret ternyata berkembang tidak hanya dengan jejaring waralaba yang mencapai 785 gerai, tetapi gerai milik sendiri seabreg jumlahnya mencapai 1072 gerai(lihat grafik perkembangan toko yang diambil dari www.indomaret.co.id ). Sedangkan Alfamart berdasarkan penelusuran penulis di www.alfamartku.com memiliki 1400 gerai, tidak diperoleh data mengenai jumlah yang dimiliki sendiri dan yang dimiliki terwaralaba.
Bila kita hitung rata-rata nilai investasi minimal untuk mendirikan mini market waralaba sekitar Rp. 300 juta saja (diluar bangunan). Dikalikan dengan 1.072 gerai yang dimiliki sendiri. Berapa ratus milyar PT. Indomarco Prismatama mengeluarkan dana untuk investasi di bisnis mini market? Indofood Group juga ternyata tidak saja pemilik merk Indomaret, tetapi juga mendirikan mini market Omi, Ceriamart, dan Citimart lewat anak perusahaannya yang lain. Belum lagi didukung dengan distribusi barang, bahkan juga sebagai produsen beberapa merk kebutuhan pokok sehari-hari. Semua dikuasai dari hulu sampai hilir. Dari sabang sampai merauke.
Persaingan Tidak Seimbang
Pasti kita maklum bersama, betapa sengitnya persaingan di bisnis ritel khususnya Indomaret dan Alfamart sebagai market leader mini market. Dengan mengutip kalimat dalam artikel Sektor Ritel Makin Menggiurkan pada Swa Sembada No.01/XX/6-8 Januari 2005 (sumber.www.indomaret.co.id ) bahwa”Yang mungkin sangat sengit persaingannya adalah dalam hal perebutan lokasi. Pastinya setiap pemain memperebutkan lokasi-lokasi yang dinilai strategis. Apalagi di bisnis ini lokasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Perebutan lokasi strategis ini, bisa juga berpengaruh terhadap harga property. Bisa saja harga ruko jadi naik karena tingginya demand terhadap mini market.”
Jadi betapa agresifnya indomaret dan alfamart dalam memperebutkan lokasi yang dinilai strategis. Bahkan hampir di setiap komplek perumahan/pemukiman pasti akan berdiri salah satu mini market waralaba tersebut dan atau keduanya. Sudah tidak mungkin pedagang eceran tradisional akan mampu mencari lokasi strategis lagi untuk saat ini dan di masa mendatang. Jika kita bandingkan dari modal saja, pedagang eceran sudah sulit bergerak.
Selain itu supermarket, toserba, dan bahkan kini ada pasar raksasa bernama hypermarket bermunculan. Baik hypermarket lokal maupun hypermarket dari luar sana. Sekedar ilustrasi mari kita berhitung sejenak, berapa banyak jumlah pasar raksasa tersebut mulai dari jalan Thamrin, Cikokol sampai BSD City di serpong, Tangerang. Di Kota Modern (Modernland) ada Hypermart , lalu hanya sekitar berjarak 1 km berdiri megah Carefour. Berikutnya di Serpong Town Square, kebon nanas berdiri Giant Hypermarket. Kemudian di World Trade Centre (WTC) Matahari, Serpong berdiri kembali Hypermart. Di samping pintu gerbang perumahan Villa Melati Mas, ada lagi Giant Hypermarket. Dan di International Trade Centre (ITC) BSD City ada Carefour. Semua itu jaraknya antara pasar raksasa yang satu dengan pasar raksasa yang lain hanya sekitar 1 km. Luarrr biasa.!
Apalagi jika kita melihat perang harga promosi mini market atau legih gila lagi hypermarket raksasa. Dengan spanduk atau baliho besar bertuliskan nama barang dan harganya yang fantastis rendah. ! Entah banting harga atau memang harga beli mereka yang teramat rendah bila di bandingkan dengan harga beli pedagang eceran kecil bergerai warung atau toko tradisional. Memang tidak semua barang berharga murah, tetapi membanting harga sedemikian rendahnya di bawah harga pasar, membuat miris para pedagang eceran kecil. Masih untung Cuma perang harga!
Dengan tidak bermaksud menggugat cara-cara promosi yang dilakukan oleh para pengelola pasar raksasa tersebut. Penulis hanya ingin mengajak kepada para pengelola pasar raksasa untuk membayangkan sejenak. Bagaimana perasaan pedagang warung dan toko tradisional, ketika ada konsumen bilang “di hypermarket aja harganya sekian???”. Kita tidak menyalahkan konsumen yang punya pemikiran demikian, membandingkan harga di hypermarket dengan di warung atau toko tradisionl. Juga tidak bisa menyalahkan hypermarket dengan promosi harga yang gila-gilaan. Mungkin ini salah satu fenomena globalisasi.
Posisi Pasar Pengecer Tradisional

Melihat dari sisi manapun, posisi pedagang tradisional semakin terjepit. Menjerit. Dan merintih tergilas persaingan bisnis yang tidak seimbang. Bisakah kita membayangkan? Posisi pedagang tradisional yang modalnya hanya semangat berwirausaha dengan sedikit uang puluhan juta. Bersaing dengan mini market waralaba yang modalnya ratusan juta plus jaringan distribusi barang yang sangat baik, didukung system operasional prosedur dan kecanggihan tekhnologi. Ternyata cukup ampuh untuk mematahkan tulang punggung keluarga pedagang eceran tradisonal.
Sekedar urun rembug, perubahan orientasi konsumen dalam pola berbelanja tidak mungkin berubah. Konsumen lebih memilih gerai modern untuk berbelanja. Selain konsumen mendapatkan kenyamanan berbelanja, pelayanan yang prima, juga harga barang terkesan murah. Oleh karena itu maka jalan keluar bagi pedagang eceran tradisional adalah merubah gerai menjadi gerai modern mini market mandiri (sendiri), yang bisa dibangun dengan modal di bawah Rp.100 juta. Kemudian berkolaborasi antar mini market mandiri dalam pengadaan barang dagangan. Selanjutnya bla…bla…atur strategi bersaing untuk menghadapi persaingan bisnis ritel agar berkeseimbangan.
Sekali lagi, tidak bermaksud menggugat pola pengembangan usaha dengan jejaring waralaba. Analisa penulis, waralaba sangat baik untuk proses pembelajaran, pemerataan usaha, dan meminimalisir monopoli. Tetapi apa yang terjadi, ternyata gerai mini market lebih banyak dimiliki perusahaan sendiri. Seharusnya perusahaan yang sudah dikembangkan dengan system waralaba tidak perlu lagi mengembangkan sayapnya dengan memiliki gerai sendiri. Tetapi kemudian peraturan perundang-undangannya tidak ada yang melarang untuk hal itu. Semua perusahaan bebas menggurita walaupun pedagang eceran tradisional mati berdiri. Hidup enggan mati tak mau. Mati tak mau tapi sulit bertahan hidup.
(artikel ini diposting juga di: http://www.hadihartono.tk  )
Continue Reading...

Izin Minimarket Milik Warga Wajib Jadi Skala Prioritas PEMDA

Minimarket
Minimarket
Kementrian Perdagangan mewajibkan pemerintah daerah (Pemda) untuk memprioritaskan izin pendirian minimarket kepada penduduk setempat.
“Apabila kebijakan ini diterapkan dengan konsisten, maka akan dapat mendorong pelaku usaha untuk tumbuh dan berkembang serasi, saling memerlukan, saling memperkuat serta saling menguntungkan,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu dalam rapat kerja dengan Komisi VI, DPR di Jakarta, Senin, seperti dilaporkan Antara.
Apabila kebijakan itu tidak diterapkan, lanjut Mendag, maka akan berakibat buruk pada keberadaan warung-warung tradisional setempat.
Menurut dia, dengan jumlah dan jenis produk yang berbeda dengan pasar tradisional, keberadaan minimarket tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keberadaan pasar tradisional.
“Pemerintah kabupaten/ kota perlu memperhatikan tingkat kejenuhan sektor ritel di wilayahnya sebelum memberikan izin pendirian toko moderen termasuk minimarket,” ujarnya.
Mendag menambahkan dalam Perpres 112 dan Permendag 53, minimarket yang didorong untuk berkembang adalah minimarket independen, minimarket operator mandiri dan minimarket waralaba yang dimiliki oleh penduduk setempat.
Ia menjelaskan yang dimaksud dengan minimarket waralaba adalah yang dimiliki dan dikelola oleh terwaralaba dengan memakai merek dagang dan sistem pengelola jaringan minimarket yang diatur dengan perjanjian waralaba.
Minimarket operator mandiri merupakan minimarket yang dikelola oleh mitra usaha pengelola jaringan minimarket yang tergolong pengusaha kecil yang menyiapkan tempat usaha saja, sedangkan perlengkapan, peralatan dan pasokan dibantu oleh pengelola jaringan minimarket.
Minimarket independen yang merupakan pengalihan sistem pengelolaan toko tradisional menjadi moderen yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh penduduk setempat.
Sedangkan minimarket yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh pengelola jaringan minimarket seperti Alfamart dan Indomaret atau minimarket independen yang pemiliknya tidak berdomisili sesuai dengan lokasi minimarket harus ditempatkan pada prioritas berikutnya dalam pemberian izin. (sumber : investor indonesia)
Continue Reading...

Wow!! Air Kencing Laku Keras Dijual, Per Liter Rp 1,500.-

Bangun pagi Anda ingin pipis, jangan buru-buru dibuang di lubang WC dulu. Sebab di Indramayu, air kencing memiliki nilai ekonomis, karena bisa dijual 1 liter harganya Rp 1 ribu. Bisnis air kencing (urine) yang dikembangkan masyarakat Desa Karanganyar, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jabar dinilai paling aman dari pengaruh globalisasi akibat membanjirnya produk China.
Jangan buang-buang air kencing Anda, apalagi sembarangan, mending ditampung lalu dijual
Jangan buang-buang air kencing Anda, apalagi sembarangan, mending ditampung lalu dijual
Setiap hari, tak kurang dari 1.500 liter air kencing yang ‘dihasilkan’ berbagai lapisan masyarakat dikumpulkan dan ditampung di sebuah gudang milik PT. Dwi Fajar, perusahaan yang memproduksi pupuk organik cair di Blok Karangsinom, Kandanghaur, Indramayu.
Di gudang penyimpanan PT. Dwi Fajar yang ber-AC itu, air kencing sudah tidak berbau lagi. “Beda ketika air kencing masih di perjalanan. Waduh baunya sangat menyengat,” kata Darmin, 38 warga Blok Cilet yang mencoba memproduksi air kencing dari seluruh anggota keluarganya dan dijual ke PT. Dwi Fajar 1 liter harganya Rp 1 ribu.
Siapa sangka, air berbau pesing yang merupakan limbah manusia itu kata Dibyo, 50, salah seorang pekerja PT. Dwi Fajar setelah dicampur bahan-bahan alamiah seperti air kelapa, dsb kemudian diproses menggunakan sistem fermentasi menjadi sebuah produk pupuk organik cair yang mampu menyuburkan segala macam tanaman seperti padi dan palawija.
Pupuk organik cair itu dikemas dalam botol di mana 1 liter pupuk organik cair harga jualnya Rp 30 ribu. “Penggunaan pupuk organik cair pada setiap 1 HA (Hektar) tanaman padi cukup 2 liter saja atau seharga Rp60 ribu,” ujar Dibyo.
Perbandingan manfaat antara pupuk urea produksi pabrik dengan pupuk organik cair kata Dibyo, 1 liter pupuk organik cair yang harganya hanya Rp 30 ribu per liter sama dengan 100 Kg pupuk urea yang harganya Rp 190 ribu. Penggunaan pupuk organik cair itu ternyata lebih efisien dan hasilnya sangat menggembirakan.
Menurut Dibyo, berdasarkan hasil uji laboratorium milik PT. Dwi Fajar, air kencing pada produk pupuk organik cair itu berfungsi menahan tanaman dari penyakit. Sedangkan air kelapa untuk meningkatkan kesuburan tanaman, baik padi maupun palawija.
Pupuk organik cair kini jadi alternatif para petani di Indramayu khususnya dalam menghadapi kelangkaan pupuk urea serta mahalnya harga pestisida di pasaran. Dan yang terpenting, penggunaan pupuk organik cair itu aman dari dampak residu atau bahan racun yang merugikan kesehatan manusia. (Sumber: Pos Kota)
Continue Reading...

KPPU VS Carrefour


KPPU VS CARREFOUR
KPPU VS CARREFOUR
Pihak KPPU rupanya sudah benar-benar siap terkait keberatan Carrefour atas putusan yang dijatuhkan mereka. Tak tanggung-tanggung, semua bahan-bahan pemeriksaan yang dilakukan KPPU selama berbulan-bulan diangkut ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Muhammad Reza, Kasubdit Litigasi dan Monitoring Putusan KPPU, yang mewakili KPPU beperkara dengan Carrefour mengatakan semua barang bukti yang dibawa diharapkan dalam pemeriksaan perkara bisa menunjukkan bahwa putusan yang dikeluarkan oleh KPPU tidak asal-asalan. Menurutnya, semua bukti yang diajukan meliputi berkas pemeriksaan dari beberapa pelapor dan juga berbagai keterangan saksi ahli dalam pemeriksaan perkara di KPPU. “Kami yakin pengadilan memperkuat putusan KPPU, berbagai bukti menguatkan,” ujar Reza kepada KONTAN, Senin (11/1).
Dalam pemeriksaan perkara kali ini, majelis hakim yang diketuai Susno memeriksa berbagai barang bukti dan juga berkas pemeriksaan yang telah dilakukan Carrefour. Pihak KPPU sendiri dalam sidang perdana kali ini membacakan kembali putusan KPPU yang sudah dijatuhkan. Dalam putusannya KPPU sendiri menegaskan bahwa pascaakuisisi Alfa pangsa pasar Carrefour melejit. Pasar yang dimaksud adalah pasar up stream dan down stream. Pada pasar up stream, dominasi Carrefour semakin kuat.
Sebelum akuisisi, penguasaan pasar 44,75 persen dan setelah akuisisi menjadi 66,73 persen. Adapun penguasaan pasar down stream juga meningkat dari 37,98 persen menjadi 48,38 persen. Pasar up stream adalah relasi antara Carrefour dengan pemasok, sedangkan pasar down stream adalah hubungan ritel dengan konsumen. Menurut Reza dominasi pasar tersebut menyebabkan kenaikan biaya bagi pemasok. Dalam simulasi yang dilakukan KPPU terhadap pemasok produk kosmetika, ditemukan kenaikan trading term, budget promosi, dan diskon promosi. (sumber : kontan online)
Continue Reading...

Pertarungan Alfamart vs Indomaret !




Pertarungan Mini Market Consumer Good Modern saat ini tak akan lepas dan selalu identik dengan Pertarungan Alfamart vs Indomaret di suatu lokasi,jika salah satu diantaranya didirikan maka yang yang lain akan mengekor,kehadiran Mini Market ini tidak hanya saling mencakar satu sama lain namun imbasnya juga menerjang warung atau Toko Retail Tradisional disekelilingnya,dan biasanya toko tradisional tersebut tak bisa membendung pelanggannya untuk berpindah ke Alfamart atau Indomaret.


Padahal beberapa tahun lalu keberadaan Mini Market Alfamart atau Indomaret tersebut tidaklah dikenal masyarakat,bahkan kala itu banyak cibiran dan nada miring yang dialamatkan pada kedua Mini Market tersebut,tidak sedikit yang mengatakan bahwa keberadaan Mini Market Modern itu tidak akan berumur panjang akibat kalah bersaing dengan toko tradisional yang mempunyai harga produk jauh lebih murah.


Namun ternyata kini nada cibiran atau nada miring itu entah ada dimana,yang ada sekarang justru decak kagum atas fenomena perkembangan Mini Market Modern Alfamart atau Indomaret,kedua Mini Market ini mengusung Toko Retail Modern yang mempunyai ciri khas ruang pajang dengan rak-rak yang tersusun rapi, variasi produk yang sangat banyak, pembayaran yang praktis dengan sistem kasir, ruangan ber-AC, tidak pengap, harga yang sangat kompetitif.
Strategi dan konsep inilah masyarakat langsung jatuh cinta,kondisi tersebut tidak lagi bisa diikuti oleh para Toko Tradisional,mereka ini berlahan tapi pasti ditinggal oleh pelanggannya,dan mereka harus menghadapi pil pahit realita ini,melihat perkembangan ini tidak disia-siakan oleh Alfamart atau Indomaret,keduanya pun melebarkan sayap dengan me-Waralaba-kan TokoRetail Modern-nya.
Alfamart ataupun Indomaret semakin agresif dalam penetrasi Toko Retail-nya,siapa yang Pertama dilokasi dialah yang akan menjadi pemenang,motto pertarungan inilah yang membuat Toko Retail Modern lainnya tertatih-tatih mengejar keperkasaan keduannya,apalagi nasib Toko Tradisional,yang semakin waktu semakin tergerus omsetnya.
Pertarungan Alfamart vs Indomaret semakin seru saja,Keduanya tak segan untuk mendorong Waralaba-nya untuk bertarung langsung berhadap-hadapan (head to head),kadang karena ngototnya pe-Waralaba-nya disuatu tempat atau di satu jalan yang sama bisa ada 2 Toko Retail Alfamart,atau 2 Toko Retail Indomaret.
Keberadaan Alfamart atau Indomaret ini semakin bertumbuh,telah ribuan Toko Retail Modern ini didirikan,Persaingan Alfamart vs Indomaret semakin mengarah kepada sisi pelayanan,dengan pelayaan yang maksimal kepada pengunjung akan membedakan keduannya,akhirnya nanti tinggal satu yang menang,kalau sudah demikian bagaimana nasib dari pemilik Toko Tradisional?pilihannya tinggal satu berubah atau mati.
Continue Reading...

Artikel Populer

 

News Update

Cari Blog Ini

Memuat...

DC Balaraja.Com Copyright © 2009